DULU saat militer Amerika Serikat (AS) menyerang kawasan Teluk seperti Irak dan Libya di tahun 90-an seluruh warga dunia hanya disuguhkan informasi dari pihak AS. Informasi itu berasal dari media-media AS yang sumbernya tentu saja ‘cuma’ berasal dari penguasa AS.
Perang Propaganda di Timur Tengah Beda Dulu dengan Sekarang
https://teshreen.com/ Saat AS menyerang Iran, informasi tidak hanya berasal dari pihak AS tapi juga dari media Iran. Di era tahun 90-an informasi digital melalui internet termasuk media online belum jadi milik seluruh umat manusia, meski tetap ada tapi terbatas dimiliki ‘orang dan kalangan tertentu’.
Namun kini zaman berganti.
teasearecords.net Informasi hanya diperoleh publik umumnya melalui media cetak surat kabar dan televisi dan satu yang pasti isi beritanya seragam. Kenapa seragam? Karena informasinya cuma berasal dari satu pihak yakni otoritas AS. Lalu apakah saat itu tidak ada media lokal di Timur Tengah? Tentu saja ada tapi informasinya jelas terbatas tidak bisa menjangkau secara global.
Dan terutama media lokal tidak bisa menyiarkan informasi itu karena infrastrukturnya habis dibom AS terlebih dahulu. Saat perang dengan Irak dan Libya, AS terlebih dahulu membumihanguskan infrastruktur penyiaran, melumpuhkan pertahanan negara itu, dan menangkap presidennya.
Contoh kasus saat ini
vtfreetomarry Kini era berganti. Di tahun 2026 ini, AS bekerjasama dengan Israel menyerang Iran. Isunya tetap sama saat menyerang Irak di tahun 90-an yakni tuduhan kepemilikan nuklir. Saat Iran diserang informasi sepihak dari A, informasi yang seragam dimuat media barat karena lagi-lagi bersumber dari militer AS.
Namun kini informarmasinya sudah memiliki pembanding dari pihak Iran. Misalnya soal pilot pesawat jet tempur AS yang konon diselamatkan melalui perjuangan para tentata terlatih. Presiden AS lalu mendramatisasi penyelamatan itu seperti di film-film.
Namun media Iran berpandangan lain dan menegaskan tidak mudah bagi pasukan AS memasuki wilayah Iran. Informasi lainnya media AS serempak mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump soal serangan ke sekolah dasar di wilayah Minab Iran 28 Februari lalu yang menewaskan 200 anak anak.
Donald Trump menyatakan kemungkinan Iran sendiri yang berada di balik serangan tersebut. Lagi-lagi media Iran menunjukkan bukti ada rudal AS di lokasi kejadian dengan bukti video dan foto melalui media sosial, dan dunia pun tidak jadi tergocek propaganda AS.
Pesawat jet tempur jenis F-15E milik AS jatuh. Namun buru-buru AS mengatakan pesawat itu jatuh akibat salah tembak oleh militer Kuwait bukan oleh rudal Iran. Harold Lasswell dalam bukunya yang masih populer hingga saat ini “Propaganda Techniques in the World War (1927)” mendefinisikan propaganda perang sebagai alat perang yang digunakan untuk memengaruhi opini publik guna mendukung peperangan sekaligus untuk melawan narasi yang berlawanan.
Bedanya saat ini
Saat ini informasi mengenai perang tidak lagi didominasi satu pihak yakni AS. Informasi juga bisa diakses dari media Iran yang memberitakan sendiri versi mereka dan kadang dilengkapi video untuk membuktikan bukan hoaks. Dengan hadirnya media online dan media sosial di era sekarang ini, Iran juga mempublikasikan kesuksesan mereka melawan Israek dan AS.
Sekaligus mengkounter klaim sepihak yang kerap ditampilkan media-media barat. Meskipun di awal -awal perang melawan AS-Israel, beberapa media online Iran tidak bisa diakses. Ini kemudian memunculkan pertanyaan adakah kaitan banned Google atau algoritma mereka diacak?
Kita tahu lahu Google dan penguasa algoritma dari negara mana. Atau mungkin infrastruktur digital Iran mengalami kendala di awal-awal perang seperti internet mati dan sebagainya karena pemboman yang berlangsung. Beberapa media barat tampaknya mulai menyadari hal itu.
CNN misalnya termasuk yang kerap berani menampilkan pemberitaan media Iran. Misalnya baru-baru ini saat CNN menyadur berita Tasnim News Iran yang mengklaim menang perang melawan AS. Sesuatu yang membuat Presiden Trump murka dan menuding CNN menyebarkan informasi palsu.
Pernyataan yang diduga dikeluarkan oleh CNN World News adalah PENIPUAN, seperti yang sangat diketahui oleh CNN,” tulis Trump di ruth Social, seperti dikutip The Independent. Beberapa media barat sadar mereka tidak selamanya akan bertahan hanya dengan sumber informasi sepihak AS.
Informasi saat ini begitu terbuka bisa diakses darimana saja dan publik tahu mana media yang tidak independen kredibel dan berimbang. Jadi begitulah seandainya Trump jadi presiden AS di era tahun 90-an mungkin dia akan dengan mudah melakukan propaganda informasi perang soal Iran.
Dua puluh tahun berlalu setelah perang di Irak namun hingga kini keberadaan “senjata pemusnah massal” yang jadi alasan menyerang Irak tidak pernah terbukti. BBC pernah melaporkan soal senjata pemusnah massal yang membuat Presiden Irak Saddam Husein digulingkan AS saat itu. Namun senjata dimaksud tetap misteri dan tidak pernah ditemukan.